Teruntuk seseorang yang …
Halo, apa kabar?
Aku Nadya.
Tujuanku menulis ini mungkin
sekadar untuk mengeluarkan isi kepalaku beberapa waktu belakangan ini. Dan jika
semesta mengizinkan, tentu saja aku berharap kamu akan membacanya.
Akhir-akhir ini segalanya menjadi
semakin tidak terarah ya? Bagaimana denganmu?
Aku akan selalu curiga bahwa setiap
orang akan melalui segala yang lebih baik dari yang aku lalui, termasuk kamu.
Saat kamu membaca ini, mungkin kamu
akan bertanya-tanya mengapa kamu orangnya? Percaya atau tidak, aku pun
mempertanyakan hal yang sama.
Sekarang aku memang masih terlalu
muda. Tapi bagaimanapun, aku bisa berkaca pada beberapa orang atau teman yang
pernah aku temui. Selama ini aku melihat setiap orang dari sisi kuatnya, sisi
lebihnya. Tentu saja aku tahu betul bahwa setiap orang memiliki kekurangan,
kelebihan, juga luka. Sebenarnya semua itu imbang, bukan? Dan kita semua
memilikinya.
Katanya, setiap orang tumbuh dewasa
beriringan dengan luka dalam jiwanya. Aku sangat mempercayai hal itu. Namun,
ada satu hal yang sulit aku percayai. Kenyataan bahwa setiap melihat raut
wajahmu, aku selalu melihat luka itu. Lalu saat waktu berlalu, aku juga melihat
luka itu makin bertambah.
Di satu sisi, aku bisa melihat
bagaimana kamu memperlakukan orang lain, bagimana kamu bisa mendapatkan
kebebasan atas apa yang kamu lakukan dan katakan. Aku agak iri dengan hal itu.
Bagaimana tidak? Aku adalah orang yang sama sekali berbeda denganmu. Setiap
kali aku ingin mendapatkan kebebasan itu, aku selalu merasa tali yang mengikat
tubuhku mengikatku makin kencang, menarikku agar tak keluar. Aku pun merasa kesulitan
untuk bergerak, kesulitan untuk bicara.
Dan hal yang paling lucu di sini
adalah … sebenarnya tali itu tidak pernah ada. Ya, begitulah.
Saat kamu membaca ini, kuharap kamu
tidak ambil pusing. Lagi pula kita dipisahkan oleh jarak, tali itu, dan
berbagai alasan. Satu-satunya yang membuat ‘antara’ kita masih ada adalah
kata-kata.
Baik, sampai di sini, mungkin aku
akan mengatakan tujuanku menulis ini sebenarnya. Teruntuk kamu, terimakasih,
ya. Karena memang kali ini atau hari-hari kemarin, aku masih ingin memelukmu.
Aku ingin memeluk setiap luka yang kamu miliki. Sayangnya, aku yang terlalu
egois ini seringkali lebih fokus pada diri sendiri. “Bagaimana aku bisa memelukmu
sedangkan aku sendiri merasa kedinginan” begitulah dalih egoku.
Pada akhirnya, aku pikir, bagaimana
aku melihatmu seperti bagaimana kita harusnya melihat manusia. Ya, kurasa aku
melihatmu sebagaimana manusia harus melihat manusia lainnya. Melihat manusia
sebagai makhluk kompleks yang dibentuk oleh kenangan, pandangan orang-orang,
kelebihan, kekurangan, luka, juga hati nuraninya.
Mungkin orang-orang melihatmu
sebagai manusia paling kuat, paling bisa mengkondisikan suasana, paling bisa menerima,
paling bisa mendampingi/ada, dan paling bisa memberikan jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan mereka. Tapi aku tidak memandangmu seperti itu. Sebab aku
tahu, kamu juga manusia yang bisa lelah, bisa sedih, bisa marah, dan bisa
disibukkan oleh masalah hidupmu sendiri. Sikap gegabah mungkin juga pernah
meletakkanmu pada posisi-posisi yang kurang menguntungkan.
Tapi … tak apa. Karena aku
melihatmu sebagai manusia. Tak apa untuk melakukan kesalahan. Kamu telah
melakukan lebih banyak hal baik. Jadi saat kamu lelah, marah, kecewa, atau
bersedih, tak apa untuk mengekspresikan itu semua. Tak apa untuk mengutuk
hal-hal buruk yang menimpamu barang sesaat. Karena kamu juga manusia.
Teruntuk kamu yang sedang membaca
ini, yang kuat ya …
Kadang orang memandangmu sebagai
manusia berhati baja, padahal hatimu juga bisa rapuh dan terluka.
Kadang orang memandangmu sebagai
orang penuh tawa, padahal kamu juga berhak untuk menangis.
Kadang orang memandangmu sebagai
pekerja keras yang paling pantang menyerah, padahal ada saat-saat tertentu
dimana kamu memandang dirimu sebagai pecundang.
Pandangan orang-orang atau
pandangan kita terhadap hidup yang keliru, seringkali membuat kita lalai bahwa kita
juga, adalah pembohong ulung yang paling lihai menipu diri sendiri.
Tapi … kamu bisa berhenti dan mulai
menjadi diri sendiri. Kapanpun.
Saat ini, saat di sini, atau saat
bersamaku, kamu bisa menjadi apapun yang kamu mau. Kamu yang penuh tawa atau
kamu yang rapuh. Kamu yang pekerja keras atau kamu yang gemar mengutuk nasib
buruk.
Tak apa.
Karena begitu banyak kata terimakasih yang ingin aku layangkan padamu. Melalui tulisan ini.
Komentar
Posting Komentar