Don Quixote dan Kita Semua
Don Quixote dan Kita Semua
Justru
Justru
karena tenung, telah diselamatkan kita
dari
jemu zaitun dan warna sama pohon-pohon encina.
Memang
masih ada sore yang hanya itu satu dusun
yang
tak berubah. Tapi ternyata hari bisa berkelindan
dengan
mimpi, dan kau dan aku lahir kembali,
tercengang
dalam cinta yang fiktif, percaya pada harap
yang
tak sungguh-sungguh.
Justru
karena tenung, aku tak akan membebaskanmu.
Kemarin
kucambuk sendiri tubuhku, sakit, agar bangun,
tapi
apa yang tejadi? Mimpi itu hanya berubah sedikit:
balur
di kulit itu jadi garis biru, seakan huruf pertama
Sayid
Hamid, sang pencerita yang membuat kita ada.
Sejarah
memang bisa seperti luka gores.
Tapi
lihat, hidup adalah tenung:
aku
milik Sahibul Hikayat, engkau kisah Cervantes.
Dan
kita berbahagia. Dan kita berpura-pura.
Goenawan
Mohamad, 2011
Don Quixote disebut-sebut
sebagai karya modern pertama di dunia Barat sekaligus cerita asal Spanyol yang
telah memikat begitu banyak pembaca lintas generasi. Puisi berjudul “Justru”
menjadi salah satu puisi yang menunjukkan betapa menakjubkannya cerita sedih
itu. Hingga Goenawan Mohamad mempersembahkan satu buku berisi kumpulan sajak
yang khusus didedikasikan untuk Don Quixote, si tokoh utama.
Penyair yang juga seorang perupa dan penulis tetap Catatan pinggir di Majalah Tempo itu meromantisasi sajak “Justru” dengan epic. Puisi yang membuatku lagi-lagi mempertanyakan tentang kehidupan.
Sebagaimana orang pada umumnya, akupun berpikir tentang alinea atau baris manakah yang paling dekat dengan hidupku. Lalu, adakah orang yang berbohong pada diri sendiri untuk bahagia? Adakah orang yang menyakiti diri sendiri demi keluar dari mimpi buruk tapi justru meninggalkan luka yang tak bisa hilang?
Adakah kisah nyata yang
tokohnya memilih untuk mempercayai semua asumsinya daripada menghadapi sebuah kenyataan yang pahit? Jawabannya, mungkin saja ada.
“Justru karena tenung, aku tak akan membebaskanmu.” Larik ini seolah menggambarkan bahwa seseorang yang hidup dalam “tenung” ini memilih untuk memelihara kisah fiktif dan segala harapan dalam kepala, tanpa pernah bisa mewujudkannya. Ia pun terbesit untuk melupakan segala kepiluan juga meninggalkan ilusi-ilusi itu.
Karena, “Sejarah memang bisa seperti luka gores.”
Orang itu berjalan terlalu jauh hingga tak ada lagi kesempatan untuk memperbaikinya. Ia sadar saat ia sudah kehabisan waktu. Sedangkan luka yang ia pelihara sulit untuk disembuhkan, meninggalkan bekas yang sukar untuk dihilangkan.
Bagiku, kisah Don Quixote lebih seperti petualangan mengejar bayangan. Ia ingin menjadi pahlawan, namun mengejar musuh yang salah. Tak ada yang pantas dihina ataupun disalahkan. Setiap cerita ada untuk kita jadikan media belajar.
“aku
milik Sahibul Hikayat, engkau kisah Cervantes.”
Bukankah kita semua memanglah milik Sang Pencerita yang telah menulis takdir dalam buku-Nya? Dan setiap cerita tentu saja menjadi milik penulisnya.
“Justru karena tenung, telah diselamatkan kita.”
Disini kita diajak untuk belajar tentang perspektif dalam melihat suatu peristiwa. Terkadang, sesuatu yang terasa begitu menyakitkan sebenarnya justru menjadi sesuatu yang menyelamatkan kita. Dan sebab ada banyak kejadian yang tidak bisa kita kendalikan, kita harus memilih sudut pandang yang lebih baik dalam menghadapi berbagai kejadian yang menimpa. Bahkan dalam setiap peristiwa buruk sekalipun, pasti ada hal baik yang mengikutinya.
Pada akhirnya, bukankah
lucu saat menyadari bahwa hidup adalah kebohongan besar dalam sepenunya
menyangkal nikmat atau sepenuhnya menyangkal kesedihan demi terlihat baik-baik
saja. Atau menutup mata akan kepelikan hidup antar-manusia. Atau sesederhana bagaimana kita menghibur diri saat menyadari kekurangan diri atau saat mengetahui ada orang yang tidak menyukai.
Kita mungkin akan bersembunyi dibalik quote-quote orang-orang bijak, bukan? Berpikir akan merasa lebih baik dengan penolakan terhadap sisi negatif diri sendiri.“Dan kita berbahagia. Dan kita berpura-pura.”
Atau kita justru menjadi manusia yang terjebak dalam euforia menceritakan kisah-kisah heroisme di satu generasi, sok hebat dengan terus-terusan bicara tentang kehebatan orang-orang di luar sana, padahal kita hanya berjalan tanpa pernah benar-benar memperjuangkan kehidupan.
Komentar
Posting Komentar