Sejak hari itu, aku tak lagi takut hantu
Sore ini di kamar kos, tubuhku hampir gemetar lagi oleh kecemasan. Di tengah rebah, setengah lelah. Di sela hening, ada monster yang diam-diam mecoba bangkit. Tapi saat itu juga aku sadar bahwa ini bukan saatnya bagi kecemasan-kecemasan semacam itu melemahkanku; mengganggu jiwa, apalagi berlanjut merusak hidupku!
Alhasil, segera kurapikan barang-barangku. Laptop, kosmetik, buku-buku. Kumasukkan semua dalam ransel. Aku bergegas keluar kos, mengenakan slip-on, beranjak pulang menuju rumah. Ya, keluarga. Sekarang aku percaya keluarga adalah perwakilan Tuhan yang menjagaku tetap baik-baik saja meski di tengah kekacauan.
Sepanjang perjalanan pulang aku tak hanya merindukanmu. Tapi juga kusempatkan menerawang kembali dari mana kecemasan itu berawal hingga berlanjut memunculkan ketakutan-ketakutan tak berbentuk yang bahkan sampai saat ini masih misteri.
Untuk menceritakannya, mungkin kita perlu mundur ke dua atau tiga tahun lalu, setelah usiaku menginjak duapuluh tahun.
Kebosanan tentu tak bisa melahirkan monster. Setelah badai yang mungkin terlalu bodoh dan tidak masuk akal untuk diceritakan. Saat kamu tinggal di suatu tempat dimana ada satu orang yang tidak bisa memposisikan diri dengan semestinya, aku merasa seperti kenyamanan, keamanan, dan ketenangan itu direggut begitu saja.
Itu tidak terasa seperti waktu-waktu sulit yang telah berhasil aku lalui sebelumnya, tapi itu juga tidak berarti mudah. Aku mulai menyadarinya seiring berlalunya waktu dan setelah kenyamananku perlahan kembali.
Meskipun tidak sepenuhnya, aku percaya hal itu menjadi salah satu alasan mengapa monster itu terlahir. Karena dalam hidup dimana aku hanya ingin fokus pada hal-hal baik dan perasaan positif, akhirnya aku bisa merasakan satu perasaan yang sangat asing: membenci seseorang.
Di awal pandemi, aku merasa telah kehilangan diri sendiri. Jadwal makan yang tidak teratur. Kehilangan pekerjaan. Beradaptasi dengan kebiasaan baru. Berusaha sekuat hati untuk mentolerir hal-hal yang tidak sepantasnya ditolerir. Berdekatan dengan ribuan informasi tentang banyaknya kematian dan keputusasaan orang-orang akan hidup normal. Aku (mau tak mau) memaksa diri untuk menerima semua itu.
Dan di suatu siang di keheningan, saat tak ada seorangpun ada di rumah, aku merasa seperti ada sesuatu yang mulai bangkit. Sesuatu yang membuat aku sangat ketakutan sampai tubuhku gemetar. Namun aku tidak tahu apa yang membuatku begitu ketakutan.
Yang jelas itu bukan ketakutan akan kematian, aku mempercayai kematian adalah proses menuju hening dan tenang.
Itu juga bukan ketakutan akan kesendirian, sebelum ini aku selalu menikmati sepi sebagai ruang untuk menemukan jati diri.
Sampai sekarang, bahkan hal yang aku takutkan masih terlalu abstrak untuk kudefinisikan. Rasanya seperti ada sesuatu yang hidup di dalam diriku, namun tak pernah kukenali. Mungkin ini akan membuatku terlihat seperti bukan aku yang kamu kenal sebelumnya. Ketakutan ini pernah membuatku merasa kehilangan diri sendiri dan merasa lebih asing dengan segalanya.
Apakah menurutmu manusia memang bisa berubah seiring dengan berjalannya waktu?
Sedikit mengingat bagaimana diriku satu atau dua tahun sebelumnya. Aku selalu membayangkan akan ada makhluk di dekat pohon pisang atau dekat rumah kosong di belakang rumahku tiap keluar sendirian di malam hari. Sebuah imajinasi yang lumrah bagi orang-orang yang sudah dicekoki cerita-cerita hantu sejak kecil. Namun, aku mulai merasa kegelapan dan imajinasi horor yang menyelimutinya jadi tak semenakutkan itu. Ketakutanku pada hal yang tak kasat mata ini jauh lebih besar.
Aku tak meyangka jika axiety semacam itu terasa lebih gaib dari setan, lebih halus dari hantu. Lebih menakutkan dari apa-apa yang dulu aku takuti. Dan sejak saat itu, aku tak lagi takut hantu.
Hari demi hari berlalu, langkah demi langkah membawaku ke tempat baru. Dan bukankah hidup selalu membawa kita ke tempat-tempat dan situasi yang tak terduga? Setidaknya tempat-tempat itu membuatku bisa melalui beberapa hal yang kukira aku takkan bisa melaluinya. Seperti katamu, aku pun bertemu dengan orang-orang baik meskipun tidak pernah ada yang sebaik dirimu. Beberapa orang itu memperlakukanku lebih manusia dari orang-orang lain. Aku berterima kasih pada mereka meskipun rasa terima kasihku padamu masih jauh lebih besar.
Bisa dibilang, ketakutan tak berbentuk itu sedikit demi sedikit tak lagi kurasakan. Untuk beberapa bulan. Sampai hari ini.
Aku menyimpulkan, mungkin aku belum benar-benar pulih. Mungkin saja monster itu hanya terlelap, bukannya lenyap. Aku hanya berharap bisa menerima semua perasaan, bahkan yang paling menakutkan sekalipun. Kita hanya dituntut untuk selalu menerima bukan? Sampai setiap perasaan itu berlalu dan berganti.
Dan setelah itu semua, entah bagaimana aku bisa kembali baik-baik saja, pada akhirnya.
Bagaimana denganmu, kamu juga baik-baik saja, kan?
Komentar
Posting Komentar