Aku ingin menjadi sepertinya

“Aku ingin bertanya, apakah kamu juga berpikir aku tampak berbeda. Mereka bilang ini bawaan lahirku. Mereka bilang aku terlahir berbeda.” - Mouse (2021)

Apakah kamu adalah orang yang seringkali mendapat omelan untuk menjadi sosok yang berbeda dari dirimu yang sebenarnya? Apakah kamu adalah orang yang sering mendengar kata-kata semacam; mengapa kamu tidak begini, mengapa kamu tidak begitu, mengapa kamu tidak sepertinya, bahkan dari orang-orang terdekatmu?

Pernahkah kamu mengatakan kepada mereka? Bahwa kamu juga ingin sekali menjadi seperti orang-orang yang kerapkali dibanding-bandingkan denganmu. Atau lebih tepatnya, kamu pernah ingin sekali menjadi sepertinya. Dia yang nampak lebih sempurna dan bisa melakukan lebih banyak hal daripada dirimu. Bahkan sampai sekarang, kamu masih sering membayangkan bagaimana jadinya jika kamu dilahirkan sebagai dia dan bukannya dirimu yang sekarang. Apakah semuanya akan berjalan lebih baik? Apakah orang-orang akan berhenti membandingkanmu dengan orang lain jika kamu terlahir sebagai dia?

Orang lain tidak pernah tahu seberapa sering kamu mengeluh pada-Nya tentang betapa sulitnya hidup sebagai alien di planetmu sendiri. Seberapa jatuh kamu saat itu. Saat kamu merasa tidak berharga dan harus berjuang sendirian sambil bertanya alasan dirimu diciptakan. Mereka tidak tahu seberapa putus asanya dirimu ketika itu. Bagian terburuknya adalah, mereka menghakimimu tanpa tau apa yang telah kamu lalui dan apa yang tengah kamu rasakan.

Pada akhirnya, kamu menyadari bahwa kekuranganmu adalah salah satu hal yang akan menuntunmu pada hal-hal indah di kemudian hari. Jalan menuju pola pikir ini pun tak mudah. Kamu berkali-kali melihat orang lain yang lebih bersinar daripada dirimu. Berkali-kali kamu membandingkan dirimu dengan orang lain yang sepantaran namun telah berjalan lebih jauh darimu, hingga berharap bisa terlahir sepertinya. Di samping tatapan aneh orang-orang yang mengagungkan persamaan dan alergi terhadap perbedaan.

Selain itu, orang tua yang katanya adalah dua orang paling menyayangimu di dunia ini seringkali membandingkanmu dengan anak-anak tetangga dan temannya. Mereka yang lebih rajin, mereka yang lebih cerdas, mereka yang lebih pekerja keras. Orang tuamu, hampir-hampir tak pernah memberikan apresiasi atas semua usaha dan apa yang telah kamu capai. Seolah kamu adalah manusia yang diciptakan untuk menurut, tidak memiliki inisiatif, inovasi, pengetahuan tentang hidup, apalagi bakat. Mereka pun berharap kamu akan berhasil dalam hidup, tapi di saat yang bersamaan juga melihatmu sebagai anak kecil (milik mereka) yang selalu membutuhkan tangan mereka untuk bisa berdiri.  

Aku percaya, kamu tidak perlu menjadi orang lain (orang kebanyakan) hanya untuk diakui dan diperlakukan setara oleh orang-orang. Meskipun mereka mengatakan kamu berbeda dan tidak pantas berada di lingkarannya. Ingatlah, kamu diciptakan untuk suatu alasan.

Mungkin beberapa kali kamu berpikir tentang dunia yang akan tetap berputar dengan atau tanpa dirimu. Akan tetap ada hitam dan putih, baik dan buruk, cinta dan benci, kesejahteraan dan kesengsaraan, masalah dan solusi, mereka yang gemar berbagi dan mereka yang korup, pemersatu dan pemecah-belah, persamaan dan perbedaan, anti-toleransi dan pejuang kesetaraan. 

Kenapa kamu diciptakan jika tanpa keberadaanmu semesta akan tetap berjalan dengan semestinya?

Percayalah hal ini. Kamu bukan sekadar objek yang dilahirkan untuk menjadi pelengkap di dunia yang terkadang menjadi begitu menuntut dan penuh penolakan ini. Kamu bukanlah orang luar. Kamu juga manusia yang diciptakan sebagai subjek untuk menyemarakkan semesta. Memang benar dunia akan tetap berjalan tanpamu. Tapi kamu dipilih sebagai salah satu bagian dari semesta, sebagaimana kamu meng-iya-kan tawaran-Nya di kehidupan sebelumnya untuk bisa merasakan hidup di sini.

Sebagai individu, aku pun pernah ada di posisi-posisi itu. Mengapa aku begini, mengapa aku begitu. Di setiap fase yang kulalui, aku selalu melihat pada orang yang menurutku ‘lebih’ dari diriku. Memang aneh jika dipikir-pikir kembali. Mengapa aku begitu menganggap tinggi seseorang dan melupakan fakta bahwa setiap manusia diciptakan dengan keunikannya masing-masing. Bukannya mencari tahu apa keunikanku, aku justru terbuai untuk mencari tahu bagaimana cara untuk menjadi sepertinya.

Di tengah obsesiku untuk menjadi orang yang berbeda, seseorang yang beberapa kali mengirimkan tulisan-tulisannya padaku di tahun terakhir sekolah menengah atas, menulis sebuah cerpen berjudul Alternative Wold dan satu tulisan yang begitu berkesan. Ternyata tulisan itulah yang aku butuhkan. Aku sadar bahwa dunia dipenuhi orang-orang yang berbeda. Individu-individu unik (termasuk dirimu) itulah yang membuat dunia ini kian berwarna dan beragam.

Bumi di penuhi orang-orang, karya, budaya, adat, suku, ras, warna kulit, kepercayaan, -isme, hingga kebangsaan yang beraneka ragam. Bukankah sebenarnya dunia tanpa perbedaan menjadi paham yang begitu usang sekaligus tidak masuk akal?

Di akhir tulisan ini, aku akan mengutip tulisan dari seorang sahabat itu. Kali ini kutujukan untukmu yang sedang berada di ruang ini.

Aku tidak peduli jika kau memilih jalan yang tidak diamini oleh banyak orang.

“Karena aku akan selalu mendukungmu, menemanimu, dan mengertimu dalam hal apapun itu. Kalau kamu merasa lelah akan apa yang kamu usahakan terhadap dunia, berbaliklah lalu lari ke arahku! Aku akan selalu memelukmu walaupun dunia membencimu. Aku akan selalu membuatmu merasa aman bersamaku, karena kamu bisa jadi dirimu saat bersamaku.”

“Jadi, baca ini saat bosan. Siapa tau, saat kamu membaca ini kamu akan selalu tau alasan untuk menjadi bersemangat lagi. Tekankan dalam diri kamu: percaya diri, selektif, dominasi, keberanian, dan juga empati. Maka, kamu akan selalu merasa ada aku yang selalu mendukungmu.”

Seperti aku yang selalu membaca tulisan itu ketika lelah. Kuharap kamu juga bisa kembali ke ruang ini ketika muak dengan semua yang telah kamu usahakan pada dunia.

Ini adalah ruang yang aku buat untukmu, agar kamu punya tempat yang akan mengingatkanmu pada rumah. Yang akan memelukmu walaupun di saat terburuk dan selalu menerima bagaimanpun keadaanmu. 

Agar kita bisa berbalik sekaligus melangkah di waktu yang bersamaan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejak hari itu, aku tak lagi takut hantu

Don Quixote dan Kita Semua

Teruntuk seseorang yang …