Berdamai dan Memaafkan
Menuju Kemenangan Kemanusiaan
Setiap tahun, di antara hari ramadhan
dan idul fitri, kemungkinan besar ada satu hal yang terlewatkan.
Kita telah menahan nafsu selama
sebulan penuh. Rela bangun tengah malam dan menghabiskan uang lebih banyak dari
hari biasanya – tentu saja untuk takjil dan apa-apa yang baru untuk lebaran.
Rela disibukkan saat perut kosong dan begadang semalaman untuk mempersiapkan
idul fitri. Tapi, bagaimana dengan dirimu sendiri? Sudahkah kamu menerima,
berdamai, dan memaafkannya?
Karena saat malam hari, sebelum
paginya kita duduk bersimpuh sambil meminta maaf pada kedua orang tua, harusnya
kita berkaca dulu untuk beberapa saat. Mengatakan pada orang yang berada di
balik cermin.
“Aku tahu kamu telah bekerja keras selama ini, tapi aku hampir-hampir tak
pernah mengingatnya. Maaf karena terlalu menuntutmu untuk ini-itu. Maaf karena
tidak pernah menghargai kerja kerasmu untuk bertahan sampai sejauh ini. Maaf
karena aku seringkali terbawa perkataan orang-orang di luar sana, yang suka
menghina dan merendahkanmu hanya karena kekurangan yang kamu miliki.”
Meletakkan diri sendiri seolah
berada di bawah orang-orang di luar sana. Padahal, ilmu pengetahuan telah
mengajarkanmu bahwa setiap manusia berada di tempat yang setara. Kita semua
berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Nilai tertinggi kita sebagai manusia
adalah kemanusiaan dan menjadi manusia – menjadi manusia yang bisa berdamai,
memaafkan diri sendiri dan orang lain.
Juga, jangan lupa untuk tersenyum
pada diri yang paling setia. Menutup hari dengan mengatakan terimakasih padanya
yang kuat (tapi juga bebal) dan pada-Nya yang telah memperkenankanmu mencicipi
hidup dan menjelajahi semesta.
Maka setelah kita berdamai.
Menangisi sekaligus menertawakan diri sendiri atas hal-hal menyedihkan yang
belakangan terasa konyol saat diingat kembali. Kita dapat tertidur lebih
tenang, diiringi gema takbir dan para ibu yang sedang mempersiapkan makanan
khas lebaran. Budaya sekaligus ritual di hari kemenangan. Esok pagi, kita pun
bangun lebih pagi, mandi lebih pagi.
Selepas peribadatan, kita saling
bersalaman. Masih seperti tahun lalu, tanpa bersentuhan. Anehnya, kali ini
segalanya terasa lebih hampa dan hambar. Kita teringat pada mereka yang telah
meninggalkan kita ramadhan kemarin, di bulan sebelumnya, saat masa kenaikan
angka penularan SARS-CoV-2, ataupun tahun-tahun di mana kita semua bisa bebas
bepergian. Kakek/nenek kita, paman/bibi kita, saudara kita, sahabat kita, atau
ayah/ibu kita. Mereka yang berharga dan selalu kita rindukan pelukannya.
“Saling memaafkan, yang tua juga lebih banyak salahnya, semoga hidupmu lancar dan sukses ya, Nak.”
Pastilah itu
juga yang ingin mereka katakan dari atas sana. Dari tempat terbaik yang
ternyata belum bisa kita raih. Nyatanya, hembusan nafas kita detik ini masih mengantarkan
kita pada detak selanjutnya.
Beruntungnya kita masih diberikan
hidup. Maka perjalanan kita harus tetap berlanjut.
Kita masih menjadi manusia yang
sama dengan hari-hari kemarin – manusia yang sangat sulit mengakui kesalahan
dan meminta maaf. Kadang rasa dendam justru mengantarkan kita pada dunia yang
kelam sama sekali, semuanya terasa buruk karena kebaikan telah tergantikan oleh
amarah dan benci.
Akupun begitu, terlalu banyak hal
yang sulit dikatakan. Ego sebagai seorang individu pun seringkali menciptakan
jarak yang sangat sulit untuk dipangkas hingga sekarang.
Maka di setiap idul fitri, mau
tidak mau kita dapat mengatakan maaf. Kesempatan untuk mengakui kesalahan tanpa
kesulitan yang berarti. Setiap orang meminta maaf. Tapi mungkin tak setiap
orang memaafkan. Karena itu, tantangan kita adalah untuk meminta maaf dan
memberikan maaf. Berdamai. Dan menjadi manusia yang lebih baik lagi.
Aku tahu, kita selalu kesulitan
untuk menemukan waktu dan tempat untuk berjumpa. Kadang jarak yang menjadi alasan,
kadang juga hati. Apalagi saat jalan-jalan tiba-tiba dijaga oleh orang-orang
berpakaian hijau atau abu. Maka pilihan selalu tiba pada smartphone, benda pipih yang secara ajaib bisa digunakan untuk
mengirim surat, berbagi tempat, hingga saling bertatap dan berbicara tanpa
perlu memangkas jarak. Benda pipih itu selalu kita gunakan, namun seringkali
lupa bahwa ia dapat dimanfaatkan.
Di sela-sela pesan berjibun yang
kebanyakan berisi “minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir & batin”
seperti yang tertera pada amplop ampau yang sebentar lagi akan kita terima dari
sanak keluarga yang lebih tua, ada juga status foto keluarga dan status dua cup kopi yang berdampingan –
masing-masing mengucapkan selamat hari raya idul fitri dan hari kenaikan Isa Al
Masih.
Saat itu aku merasa, ini bukanlah
tentang kemenangan atas sesuatu yang kita perjuangkan. Tak ada yang menjadi
arang atau abu, kita hanyalah manusia yang mendambakan perbaikan dan kebaikan.
Ini adalah hari di mana kita bisa berdamai. Saling menghargai dan bertoleransi.
Belajar memaafkan setiap kesalahan. Menjadi lebih baik lagi dan berjalan lebih
jauh lagi.
Maka, selamat hari perbaikan.
Selamat memanusiakan manusia.
Selamat hari raya kemanusiaan.
Komentar
Posting Komentar