Cerpen: "Tuhan Tak Pernah Gagal"
Tuhan Tak Pernah Gagal
Perempuan itu tinggi semampai, berambut panjang, bermata besar, dan begitu mempesona. Kulitnya langsat dan gestur tubuhnya mencuri pandangan setiap murid ketika masih sekolah. Di balik keterbatasannya yang tak kasat mata, ia adalah ciptaan Tuhan yang luar biasa. Hatiku berdegup kencang tiap kali mengingatnya.
Di umur dua belas tahun, aku dan dia berada di frekuensi yang sama. Kami bisa melihat birunya langit, hijaunya dedaunan, dan senyum getir yang kerapkali diperlihatkan orang tua kami. Aku bisa mendapat ketenangan dengan menyaksikan detail di setiap bangunan, kendaraan-kendaraan di jalan raya, hingga membaca raut muka para siswa di sekolah itu. Aku pun bertanya-tanya ketika merasakan pandangan berbeda yang diberikan orang-orang kepadaku saat dijalanan atau taman. Seolah mereka tak maklum akan keheningan yang menyelimuti duniaku, dan keinginanku yang begitu besar untuk memahami dunia.
Namun, para pembimbing di sekolah luar biasa berbeda dengan dunia yang gemar akan keseragaman. Mereka menatap kami seperti manusia menatap manusia lainnya. Mereka menatap kami dengan penuh harapan, seolah aku, dia, dan puluhan murid di sini akan menjadi seorang manusia yang bisa duduk setara dengan manusia yang berada di dunia luar.
Aku ingat betul bagaimana dia masuk ke kelas untuk pertama kalinya. “Bolehkan aku duduk di sini?” Ternyata isyaratnya sudah lancar, setidaknya BISINDO. Aku terpana, pada parasnya juga pada kepercayaan diri yang ia miliki. Lalu aku meresponnya dengan anggukan kepala. Ibunya duduk di belakang meja kami, bersama papaku.
Hari demi hari membuat ikatan kami semakin terasa. Lebih dari sekadar teman duduk di sekolah luar biasa, kami menjadi sepasang sahabat yang memiliki cara tersendiri untuk berkomunikasi, saling memahami, dan bersama-sama belajar untuk mengerti tentang dunia tempat kami berpijak. Hingga kami harus meninggalkan SLB dan masuk ke sekolah reguler yang sama.
Suasana di sekolah itu agak berbeda. Tak hanya mendapatkan bantuan, senyum ramah, dan dukungan dari teman-teman kami yang baik hati. Kami juga mendapatkan pandangan yang tak wajar, rasa kasihan yang berlebih, tatapan meremehkan, hingga risakan. Tapi kehadirannya untukku dan kehadiranku untuknya telah membuat kami bisa bertahan di sekolah reguler hingga SMA.
Kemudian, ada satu kejadian di kelas satu SMA yang pada akhirnya merubah kehidupanku. Atau mungkin, juga dia. Remaja dengan tatapan seterang bintang itu menghampiriku dengan berbinar dan senyuman lebar. Duduk di sampingku dan mulai bicara dengan cara yang agak berbeda dengan biasanya. Dia menceritakan tentang alat ajaib yang bisa membantunya memahami dunia dengan lebih mudah.
“Tanpa ini, duniaku hanya berisi keheningan. Tapi sekarang aku bisa mendengar sedikit dari dunia. Aku juga bisa belajar bicara mulai sekarang.”
Aku terkesima saat melihat gerak bibir dan tawanya yang begitu riang. Selain isyarat dari tangannya, apa yang keluar dari mulutnya seolah mengeluarkan suara yang sama dengan orang-orang di sekitar kami. Bintang melepas alat yang menempel di telinganya. Memasangkannya padaku.
Aku pun tersenyum bersemangat. Harapanku memuncak. Tak sabar untuk mendengarkan isi dunia selain keheningan. Satu detik. Hening. Dua detik. Sampai lima menit kemudian. Masih hening. Senyumku luntur seutuhnya. Alat ajaib ini tidak berfungsi untukku. Duniaku masih tanpa suara.
“Kamu bohong! Mengapa lebih mudah untukmu? Alat ini tidak berguna. Kamu berhasil. Aku gagal!” kataku kesal. Isyaratku tak terlalu gamblang.
Aku bergegas melepaskan alat bantu dengar itu. Mengembalikannya pada Bintang. Aku berlari meninggalkannya. Tak hanya bersungut-sungut dan kecewa. Aku marah pada Tuhan karena masih membuat duniaku hening ketika sahabatku sudah mulai menemukan jalan untuk mendengarkan suara-suara di dunia ini. Satu kerikil kecil itu menuntun kami berjalan ke dua arah yang berlawanan.
Aku tak menemui perempuan cantik itu untuk waktu yang lama. Sampai di siang yang mendung sehabis waktu istirahat, aku menemukan sepucuk surat di laci mejaku.
Jangan marah padaku, ya. Kamu tidak gagal Yogi.
Tidak sempurna bukan berarti sebuah produk gagal.
Kita mungkin punya perbedaan dan itu tidak adil.
Tapi kata ibuku, Tuhan tidak pernah gagal.
Kita itu orang-orang istimewa, Tuhan sayang kita :)
***
Hari demi hari telah berganti. Bulan demi bulan berlalu. Delapan tahun telah aku lewati setelah hari itu. Hari terakhir aku melihatnya dan hari dimana dia diam-diam meninggalkan surat di laci meja sekolahku. Aku melihat fotonya terpajang di sebuah majalah beberapa bulan kemudian. Saat itu aku membuka kembali untaian kata yang ia berikan padaku saat kami SMA. Dan saat itu pula aku sadar, Bintang sedang berjalan menuju tempat yang setara dengan orang-orang di luar sana.
Dan hari ini adalah waktu yang paling mendebarkan untukku. Delapan tahun telah menempaku menjadi orang yang jauh berbeda dengan aku saat SMA. Bintang pun begitu. Ia akan berbicara di hadapan orang-orang yang lebih sempurna dari kami. Bahkan, orang-orang yang dahulu mengasihani dan meremehkannya mungkin takkan bisa meraih bintang seterang bintang yang ia perlihatkan saat ini.
Aku menyimak baik-baik setiap kalimat yang keluar dari bibirnya. Bintang menunjukkan lebih dari yang aku bayangkan. Karismatik, jauh lebih cantik, tegas dan cerdas. Dia sempat membawa beberapa anak tuna rungu untuk berdiri dengannya di podium. Lagi-lagi, hal yang luar biasa.
Kemudian, apa yang keluar dari bibirnya setelah itu terdengar begitu familiar di telinga dan ingatanku.
Tanpa alat ini, dunia kami hanya berisi keheningan.
“Tanpa alat ini, dunia kami hanya berisi keheningan.”
Dejavu.
Aku mengikuti gerakan tangannya, melepas alat yang selama ini telah membantu kami mengenal dunia. Hening. Sambil terus bicara dengan caranya yang istimewa, ia mempraktikkan beberapa bahasa isyarat Internasional. Lalu kami kembali memakai alat bantu dengar, secara bersamaan.
Apa yang aku lihat di depan sana. Apa yang aku dengar saat ini. Sama dengan surat yang aku baca darinya delapan tahun lalu. Kata-kata yang mampu menuntunku sampai ke tempat ini.
“Kawan-kawan, menjadi tidak sempurna bukan berarti sebuah produk gagal. Mungkin kami, kita semua pernah mempertanyakan tentang ketidakadilan. Mengapa harus ada perbedaan. Mengapa harus ada minoritas. Bahkan, mengapa kita diciptakan dengan keadaan seperti ini. Tapi kapanpun kita mempertanyakan hal itu, ingat ini, kawan-kawan. TUHAN TIDAK PERNAH GAGAL. Kita semua adalah ciptaan-Nya yang istimewa. Kita diciptakan untuk satu alasan.”
Bedanya, dia sekarang terlihat begitu bersinar. Saat ini, puluhan pasang mata yang berada di samping kiri-kanan dan belakangku tertuju padanya seorang. Ia berdiri dengan tangguh di depan sebuah papan nama berwarna merah dan layar, jauh lebih mempesona dari sebelum-sebelumnya, dan suaranya menggema di seluruh gedung, terngiang-ngiang di telingaku. Dan di akhir katanya, aku merasa senyuman dan pandangan mata itu ditujukan padaku.
“Terimakasih.”
Terimakasih.
November 2021
Terinspirasi dari speech
Komentar
Posting Komentar