Menjadi seorang puan
Terutama, karena aku perempuan …
Aku
selalu tertarik tentang kehidupan para perempuan di luar sana. Bagaimana anak
perempuan dibesarkan oleh orang tuanya, bagaimana anak perempuan melihat
ibunya, bagaimana remaja perempuan melakukan pencarian jati dirinya, bagaimana
perempuan memandang pendidikan, bagaimana perempuan menghadapi quarter life crisis, hingga bagaimana
perempuan memandang sebuah hubungan/pernikahan dan seperti apa hubungan yang
mereka impikan.
Apakah
mereka yang hidup di era ini memiliki kecenderungan untuk berfikir bahwa
pernikahan itu penting namun bukanlah tujuan akhir dalam memaknai hidup sebagai
manusia seutuhnya? Atau mereka berpikiran seperti tokoh Kardinah dan Roekmini
dalam film Kartini? Bahwa tanpa sebuah ikatan pernikahan pun, mereka bisa
menjadi orang yang berguna untuk sesama.
Beruntunglah
kita yang telah keluar dari masa penuh kekangan itu. Karena jika kita hidup di
masa itu, kita tidak akan bisa menghirup udara sebebas saat ini. Mungkin rumah
yang kita anggap sebagai tempat pulang akan menjadi penjara yang menakutkan.
Kita
telah berada di masa yang berbeda. Keadaan pulau Jawa di abad 21 tentu saja
sudah jauh berbeda dengan Jawa abad ke-19. Tidak ada lagi pingitan. Tidak ada
lagi perjodohan dengan pemaksaan. Toh, sekarang kita bahkan bisa memilih sepatu
atau sandal apa yang kita pakai, bukan?
Bagaimana mungkin di zaman ini kita
berjalan merangkak pada yang lebih berkuasa?
Tapi
kalau tentang putus sekolah karena himpitan ekonomi, tentu masih ada. Karena
penjara-penjara yang ada di masa lalu berevolusi dalam bentuk lain sebagaimana
otak manusia juga berevolusi.
Di
tempatku, perempuan dibesarkan dengan doktrin bahwa kami adalah manusia yang
harus menurut pada siapa pun yang dianggap lebih pantas mendominasi. Seolah
setiap laki-laki yang datang dalam hidup perempuan, berhak untuk setiap
dominasi atas kami. Aku melihat bagaimana perempuan sebagai ibu rumah tangga
menjadi sangat bergantung pada suaminya. Lalu saat perempuan menjadi lebih
berdaya untuk menafkahi keluarganya, sang suami (dengan berbagai alasan)
menjadi sosok yang tidak bisa (tidak mau berusaha) menggantikan sosok ibu bagi
anak-anaknya.
Maka sebagaimana perempuan dibesarkan untuk jadi begitu mudah didominasi, dikendalikan, dan diobjektivikasi, setiap hal dari perempuan pun begitu mudah diberikan cap, label, nilai atau stigma. Perempuan yang gagal berumah tangga atau ditinggal selingkuh suami akan dinilai sebagai perempuan yang tidak bisa menjaga suami atau tidak bisa melayani suami dengan baik. Perempuan yang bersifat lebih mendominasi, terlebih jika dia seorang istri, akan dicap sebagai perempuan galak. Sampai hal terkecil, perempuan yang punya jerawat, sedikit berisi, atau agak kurus, dinilai sebagai perempuan yang tidak bisa merawat tubuhnya.
Perempuan tomboi dituntut lemah lembut, tapi perempuan feminin dianggap lemah. Tidak memakai riasan dianggap tidak cantik, sedangkan memakai riasan sedikit tebal, dikatakan terlalu berlebihan, menor, norak, seperti emak-emak, atau ondel-ondel. Wahai! Rumit sekali para manusia setengah dewa ini.
Masalah
serius seperti pelecehan yang kerapkali menjadikan perempuan sebagai korban
juga menempatkan perempuan pada pandangan sosial yang tak seharusnya. Mereka
yang menjadi korban seringkali menjadi korban untuk kesekian kali oleh
orang-orang yang seharusnya melindungi.
Kemudian,
jangankan kita bicara tentang bagaimana negara berkembang seperti Indonesia
yang masih belum memiliki payung hukum khusus untuk korban pelecehan. Korea
Selatan, negara dengan payung hukum pelecehan ternyata masih bisa membebaskan
seorang pelaku pelecehan dan kekerasan terhadap anak hanya setelah beberapa
tahun kurungan, setelah kasus itu sempat menjadi begitu besar dan disorot oleh
dunia.
Amerika
Serikat, yang dianggap negara paling maju dalam peradaban ini, bisa membuat
salah satu diva-nya membeberkan pada dunia tentang betapa buruknya pengadilan
mereka dalam menangani kasus pelecehan. Ia dipermalukan oleh orang-orang yang
duduk di pengadilan, menjadikan kemenangan atas kasusnya tidak seberapa jika
dibandingkan bagaimana dia (sebagai perempuan dan korban) dihakimi selama
proses peradilan.
Aku
pun bertanya-tanya mengapa hal-hal itu harus menimpa perempuan, di berbagai
tempat dengan berbagai profesi. Mengapa hal semacam itu tak pernah diberikan
pada lelaki. Mengapa hanya perempuan yang seolah layak dilabeli dengan hal-hal
yang sebenarnya tidak layak itu.
Lebih jauh lagi aku bertanya-tanya; mengapa angka buta aksara didominasi oleh perempuan, mengapa rata-rata tingkat pendidikan perempuan lebih rendah daripada laki-laki, mengapa kesehatan perempuan selalu lebih rentan (mulai dari penyakit berbahaya dan menular seperti HIV/AIDS, kanker, hingga penyakit ringan genetik yang tidak menular).
Mengapa? Bisakah
kita menjawabnya?
Aku
yakin, kita pasti bisa memberikan ‘lebih dari jawaban’ atas berbagai pertanyaan
‘mengapa’ ini.
Komentar
Posting Komentar